Ikrar Sumpah Pemuda

Dibacakan oleh Ketua Umum IKPM Sumsel Agus Lucky Syahputra di ikuti oleh perwakilan IKPM Se-Indonesia

IKPM SUMSEL Mementaskan Taraian Daerah

Foto Bersama Ketua Umum Bersama Penari Binaan IKPM Sumsel Yogyakarta


Asrama Mahasiswa

Balai Sriwijaya Yogyakarta

Peringatan Hari HAM Sedunia

Aspirasi Anti Kekerasan

Kamis, 31 Oktober 2013

Visi-Misi

Visi
Mewujudkan putra-putri Sumatera Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya yang berintelektualberdedikasi tinggi, berbudi luhur dan bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Misi :
  1. Mejalin persatuan dan kesatuan diantara keluarga pelajar mahasiswa Sumatera Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umunya.
  2. Membina putra-putri Sumatera Selatan Yogyakarta.
  3. Menciptakan hubungan yang baik diantara warga IKPM Sumatera Selatan, masyarakat, pemerintah provinsi Sumsel dan DIY
  4. Berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah dan negara
  5. Usaha-usaha lain yang sah dan bermanfaat sesuai dengan asas organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

Ikrar Sumpah Pemuda dan Dialog Ke-Pemuda-an IKPM Sumatera Selatan



“Kami putra putri indonesia mengaku bertumpah darah satu tanah air imdonesia
Kami putra putri Indonesia mengaku  berbangsa satu, bangsa indonesia
Kami putra putri Indonesia mengaku berbahasa kesatuan, bahsa indonesia"

Serentak dengan penuh semangat beberapa pemuda mengikrarkan kembali sumpah yang 85 tahun lalu dideklarasikam oleh founding bangsa. mereka adalah pemuda yang terdiri dari kalangan mahasiswa daerah, dan tergabung dalam ikatan keluarga pelajar mahasiswa seluruh indonesaia yang berdomisili di daerah istimewa yogyakarta.
Hari itu adalah tanggal 28 oktober 2013, sebuah momentum sejarah bagi Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Sumatera Selatan (IKPM SumSel). Karena pada tanggal tersebut IKPM SumSel telah mengadakan kegiatan monumental, yakni kegiatan memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda. Rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memperingati, merefleksikan serta melaksanakan nilai ikrar pemuda pendiri indonesia tersebut diikuti oleh hampir seluruh perwakilan mahasiswa se nusantara di Yogyakarta. Pun,  Balai sriwijaya IKPM SUMSEL turut menjadi saksi atas tingginya apresiasi Pemuda mahasiswa dalam agenda yang bertajuk Ikrar pemuda dan Dialog Kepemudaan tersebut.
Salah satu apresiasi mereka tunjukkan lewat momen dialogis yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Musi Banyuasin Sumatera Selatan , ketua KORPRI PMII, serta Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari beberapa pesan moral yang ditujukan langsung terhadap seluruh mahasiswa se-Nusantara tersebut seluruhnya berisikan gugahan, dorongan serta kritik terhadap pemuda Indonesia kini.
Beni Hernadi, salah satu penyaji dialog mengungkapkan bahwa setiap pemuda memiliki peran yang amat strategis dalam proses regenerasi estafet kepemimpinan bangsa ini, karena dalam jiwanya tertanam semangat ideologis dalam menjunjung idealisme bangsa Indonesia. Bahkan, kata penyaji yang juga menjabat sebagai wakil bupati MUBA SUMSEL tersebut, dalam jiwa setiap pemuda harus ditanamkan semangat kepemimpinan, karena 10-15 tahun kedepan para pemuda khsususnya mahasiswalah yang akan memimpin bangsa ini menuju lebi baik. “setiap pemuda khususnya mahasiswa harus optimis untuk jadi pemimpin”, ungkapnya dengan penuh semangat.
Sementara itu menurut Irma mothoharah dalam penyajiaannya, para pemuda khususnya
mahasiswa idealnya memang harus menjadi inisiator, mobilisator serta konsolidator atas segala gerakan-gerakan kepemudaan yang bertujuan untuk mengawal arah bangsa ini menjadi lebih baik. Karenanya, dibutuhkan bekal pengetahuan yang mapan dalam konteks teoritik maupun praktik dilapangan. Multikompleksnya persoalan kebangsaan khusunya dalam memproteksi  ideology pemicu keretakan indonesia, menurut wanita yang juga ketua KORPRI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tersebut merupakan salah satu tantangan bagi segenap pemuda untuk membuktikan  peran strategisnya, yaitu sebagai agent of change dan social control. ‘’ Menjadi pemuda itu harus tahu dan melakukan banyak hal bagi kemajuan bangsa, karenanya semangat pemuda itu harus dimulai dari mahasiswa’’. Tuturnya dengan logat ala aktivis.
Sesuai tugasnya sebagai bangsa Indonesia para pemuda memang harus senantiasa optimis dalam berjuang membangun cita-cita bangsanya, dalam konteks apapun. Sejalan dengan itu Imaun Kenering yang turut menjadi penyaji dalam dialog tersebut mendukung terhadap gerakan-gerakan kepemudaan yang berorientasi konstruktif. Meskipun hanya memberikan sedikit pengantar, pejabat kejaksaan tinggi Yogyakarta tersebut cukup memberikan suntikan moral terhadap segenap pemuda yang hadir.
Setelah penyajian selesai, nampaknya belum bisa menyudahi terhadap momen dialog tersebut, beberapa pemuda yang seluruhnya mahasiswa tersebut terlihat semangat dalam menyambut moment dialog langsung dengan para penyaji dialog. Dengan dipandu seorang moderator,  dialog pun berlangsung. Dimulai dengan mahasiswa bernama Arif budiman, salah satu peserta dari kabupaten MUBA. Dia menayakan perihal peran pemerintah dalam mengawal aktivitas kepemudaan yang ada ditiap-tiap daerah khususnya daerah MUBA SUMSEL. Mengenai pertanyaan tersebut Beni Hernadi menjelaskan bahwa memang harus ada satu bentuk kerjasama dalam menjalankan aktivitas edukation, entah itu pemuda maupun pemerintah daerah. “ idealnya pemerintah daerah memang harus jadi patner bagi para pemuda daerahnya khususnya dalam mendukung aktivitas pendidikan ”. tuturnya.
Tak mau kalah dengan peserta pria, salah seorang pemudi bergegas maju kedepan setelah diberi kesempatan oleh moderator. Dengan nada lugas dia mencoba mengeksplorasi pertanyaannya. Singkatnya, dia menanyakan persoalan nasionalisme yang seakan-akan disangsikan oleh bangsa ini sendiri. Menurutnya, hal ini terbukti dari kebijakan lembaga pendidikan  Indonesia bertaraf internasional yang mengharuskan salah satu persyaratan masuknya dengan menguasai bahasa inggris. Dalam konteks keindonesiaan hal ini tentu telah menghianati isi sumpah pemuda? Tanyanya. Dalam pertanyaan ini Irma mothaharah yang ambil bagian untuk menjawab, menurutnya esensi nasionalisme terhadap bangsa Indonesia harus dipahami secara luas, supaya tidak terjadi eklusivitas berfikir dan bertindak. Salah satunya ialah tentu dengan memberikan kontribusi pengetahuan bagi bangsanya. Persolan ada lembaga pendidikan bertaraf internasional yang mengharuskan peserta didiknya menguasai bahasa inggris, hal tersebut tak jadi masalah bagi penanaman nasionalisme, sebab, ilmu pengetahuan adalah persoalan skill individu termasuk dalam penguasaan bahasa. Karena yang terpenting bahasa nasional Indonesia tetap menajadi bahasa yang utama dalam berinteraksi. “ bukannya menguasai bahasa asing merupakan satu kelebihan, seperti yang saya ungkapkan diatas bahwa pemuda pemudi Indonesia harus tahu banyak hal termasuk bahasa ”. ungkap aktivis kelahiran MUBA tersebut.
Pertanyaan demi pertanyaan sebenarnya masih terus berlanjut, sampai pada batas akhir waktu dialog kepemudaan, IKPM SUMSEL yang diwakili oleh ketua umumnya Agus Shaputra atau akrab disapa lucky tersebut memberikan kenang-kenangan berupa lukisan kedua penyaji dialog, yakni Beni Hernadi dan Irma Muthoharah.

Begitulah suasana yang tergambar dalam kegiatan ikrar pemuda dan dialog kepemudaan IKPM SUMSEL. Mengingat apa yang disampaikan oleh penyaji bahwa jiwa para pemuda merupakan jiwa paling strategis untuk memberikan perubahan, maka, bersegeralah melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Sok hok gie pernah mengungkapkan dalam catatan hariannya yang cukup monumental(catatan seorang demonstran), bahwa tugas generasi muda adalah memberantas generasi tua yang mengacau.

Selasa, 01 Oktober 2013

Meluruskan Sejarah G30S

Judul Buku      : Bunga Tabur Terakhir
Penulis             : GM. Sudarta
Penerbit           : Galangpress
Tahun Terbit    : 2011
Tebal               : 156 halaman

Tiap September kita diingatkan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Tragedi berdarah G30S/PKI adalah dramaturgi bertajuk pembantaian massal. PKI dianggap dalang pembunuh enam jenderal. Walhasil, doktrin dan wacana anti PKI merebak di seantero negeri.
Pun negeri ini hidup dalam kegelapan. Mereka yang dianggap PKI, entah itu tokoh, pengurus, kader dan bahkan simpatisan “partai terlarang” ditangkap, diculik, dibunuh, dengan cara biadab, jauh dari norma serta etika kemanusian. Singkat kata, hal-hal yang berbau bahkan bersentuhan PKI: ideologi, simbol, identitas, dan sebagainya—wajib disingkirkan dari tanah republik.
Kengerian itu digambarkan dengan dramatis, mendalam, dan apa adanya dalam buku Bunga Tabur Terakhir. Kisah-kisah pilu dialami saudara kita yang di-PKI-kan direkam secara apik karikaturis GM Sudarta. Ia menggambarkan bagaimana situasi tegang, menakutkan, dan tindakan bengis terjadi ketika peristiwa kelabu pecah dan PKI/mereka yang dituduh “partai terlarang” itu hidup dalam bayang-bayang ketakutan serta kematian.
Sungguh situasi yang begitu mencengangkan. Penulis buku mengilustrasikan kembali keadaan zaman meminjam istilah pujangka Joyoboyo zaman edan ke dalam sepuluh cerpen yang ia racik berdasarkan pengalaman pribadi, hasil investigasi dan wawancara langsung dengan para korban kekejaman peristiwa genocide PKI.
Membaca sepuluh cerpen buku ini, pembaca seakan merasakan langsung betapa mengerikan peristiwa PKI. Dengan kreatif, penulis buku membawa imajinasi kita pada keadaan sebenarnya, saat di mana pengejaran terhadap PKI serta hal-hal bersentuhan dengan PKI terjadi ketika itu. Mulai didaftar sebagai anggota PKI, diculik, dibantai, hingga disiksa dengan cara bengis. Tak sampai di situ, citra dan bahkan pembunuhan karakter serta identitas anggota PKI yang juga sebagai pemilik sah republik ini turut dilenyapkan—ironinya masih terjadi hingga saat ini.
Reformasi dan demokrasi memang telah memberikan “angin kebebasan”, termasuk pada keturunan PKI. Tapi tak berarti stigma yang dialamatkan PKI beserta keturunannya bersih dari rekayasa politik masa silam. Manipulasi sejarah yang telah mengakar dan mendarah daging telah menghilangkan identitas kultural, sosial, hukum, budaya, serta politik generasi PKI.
Dalam bahasa lain, masih ada “Soeharto-Soeharto kecil” dalam diri kita ketika mengenang PKI. G30S selalu identik dengan PKI. Begitulah politik keji Orba di bawah panglima Soeharto melakukan manipulasi sejarah dengan menuduh PKI dalang di balik pembunuh enam jenderal. Padahal, hingga kini tak ada bukti otentik PKI aktor utama pembunuh enam jenderal.
Tapi, sejarah terlanjur mengajarkan pada anak bangsa bahwa PKI sebagai dalang di balik peristiwa G30S. Pembelokkan sejarah yang mesti diluruskan dengan sejarah yang benar. Merekonstruksi bahkan membongkar sejarah PKI yang dipelintir sepatutnya dilakukan supaya bangsa ini tak selamanya hidup dalam kebohongan rekayasa sejarah.

Peresensi : Agus Lucky Syahputra (Ketua Umum IKPM Sumsel 2012-2014)

Jumat, 26 Juli 2013

Memaknai Pesan Pausa Romadhon*

    Lantunan suara yang berbunyi buka….teruslah berjalan, diteriakan oleh para Shoimun setiap menjelang maghrib. Dan tak terasa kita sudah memasuki lebih kurang setengah dari bulan Romadhon 1434 Hijriah. Ketika bulan penuh berkah dan ampunan itu akan tiba, banyak tradisi yang ditunjukan oleh masyarakat islam untuk menyambutnya. Ada dengan cara minta maaf kepada sesama manusia yang dikenal–kalau mahasiswa atau pelajar mungkin menggunakan media sms, mengirimkan ucapan selamat dan permohonan maaf, sehingga ketika melaksanakan ibadah puasa jiwa ini benar-benar siap karena sudah terlepas dari segala beban dosa atas sesama hamba Allah.
Ada juga yang menyambutnya dengan limpahan dosa, karena mereka menganggap mempung belum puasa, maka dipuaskan dulu untuk berbuat dosa, nanti bulan puasa bertobat. Apapun bentuk sambutan masyarakat, tidak penting untuk debatkan, karena kita sedang membicarakan makna pesan yang terkandung dalam puasa. Terlepas dari semua bentuk sambutan tersebut. Namun, yang pasti seluruh umat islam di penjuruh dunia sangat bahagia yang tak terukur nilainya dikalah Romadhon akan datang. Bagaimana tidak. Romadhon, Bulan penuh limpahan rahmat yang diberikan Allah pada sepuluh hari pertama, bulan penuh dengan mutiara ampunan yang dihadiakan Allah sepuluh hari pertengahan, dan bulan penuh dengan kelipatan pahala yang dibonuskan Allah pada umat Islam pada sepuluh hari terkhir atau yang sering kita sebut malam Lailatul Qodar (malam seribu bulan).
Pada dasarnya puasa romadhon merupakan kewajiban umat islam sebagaimana yang telah digasriskan Allah dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqoroh ayat 183. Ketika kita melaksanakan perintah tersebut dengan mengharap ridlo Allah, maka terlepas sudah kita dari kewajiban syari’ah dan kita akan dibalas oleh Allah sendiri berupa pahala yang berlipat ganda, sebagaimana janji-Nya akan memberikan pahala puasa secara langsung kepada anak adam yang berpuasa dengan sempurna. Sepintas kalau dipahami ritual manahan lapar dan minum tersebut  akan berlalu begitu saja. Seakan-akan pekerjaan yang dilakukan hanya untuk melepas kewajiban dan ajang mencari pahala.
Sebenarnya kalau kita gali lebih dalam, akan banyak iktibar (pelajaran) yang terkandung dalam puasa romadhon tersebut. Terganutung kita memehaminya dan pondasi niat yang kita buat dari awal puasa. Sebagaimana kata Rosulullah kalau pekerjaan dunia tidak kita niati ibadah, seperti makan hanya dapat kenyang, minum hanya dapat segar, olah raga hanya dapat badan sehat, tapi tidak dapat pahala. Saya kira begitu sebaliknya dengan pekerjaan yang berbentuk amal akhirot.
Sebagaimana puasa, kalau kita memahami sebatas melepas kewajiban syari’at saja, maka kita tidak akan mendapat iktibar yang terkait dengan urusan dunia. Pada hal kita dianjurkan untuk belance leafe (hidup seimbang)–Hablu Minallah (hubungan vertikal, dengan Allah), Hablu Minannas (Hubungan horizontal, sesama manusia) dan Hablu Minal ‘Alam (Hubungan Horizontal, dengan alam). Menurut hemat saya ada beberapa hal yang bisa kita maknai dalam puasa baik dari hikmah maupun pesan puasa yang terkandung didalamnya.
Dari renungan makna tersebut akan memberikan perubahan kesadaran dalam diri kita–Kesadaran solidaritas, bersosial, mendekatkan diri pada Allah, kesadaran asas manfaat terhadap sesama dan masih banyak lagi kesadaran yang mengarah kepada berpikir konstruktif dan inovatif. Jika semua itu bisa kita realisasikan, maka hadist Rosulullah yang mengatakan “Barang siapa berpuasa dengan iman dan mengharap ridlo Allah, maka dia akan seperti bayi yang baru dilahirkan”  akan benar-benar sempurna. Karena, tidak sebatas bersih dari segala dosa, tapi juga melahirkan insan-insan yang berkarekter positif dan membangun peradaban umat manusia.
Sekarang kita mencoba memahami pesan yang terkandung dalam puasa Bulan Romadhon. Pertama, Puasa Romadhon membentuk kesadaran sosial, sehingga akan membentuk solidaritas sosial dikalangan  orang miskin. Karena pada bulan puasa ini, seluruh umat islam, miskin kaya, rakyat biasa, elit politik semuanya menahan lapar dan dahaga. Dalam proses menahan bersama itulah ada pesan yang terkandung bahwa orang kaya bisa merasakan bagaimana penderitaan orang miskin ketika mereka kekurangan, selanjutnya akan tumbuh kesadaran sosial bagi orang-orang yang mau merenungkan hikmah dari puasa tersebut. Kesadaran tersebut pun kita tak inginkan hanya tumbuh sebatas pada bulan-bulan puasa. Namun, kesadaran tersebut akan menjadi karekter dalam pergaulan sehari-hari atas sesama. Dengan demikian sungguh luar biasa puasa seseorang jika dua tingkat kesholehan ia bisa meraih semuanya–Kesholehan iman (bersih dari segalah dosa seperti bayi yang baru lahir) dan kesholehan Sosial (terbentuk kesadaran solidaritas atas sesama manusia tanpa pandang bulu). Allah Humma Amiin. Amiin Ya Allah.
Kedua, ada hadits Nabi yang mengatakan Shumuu Tashihuu, ”Puasalah kamu, maka kamu akan sehat”.  Dari hadits diatas Dapat kita pahami bahwa puasa dapat menyehatkan bada secara fisik bukan menjadikan kita lemah. Maka tidak ada alasan bagi kaum profesi apapun untuk tidak puasa dengan alasan karena puasa membuat lemah ketahanan tubuh. Ternyata hadits Rosulullah tidak sekadar kata-kata mutiara agar orang mau berpuasa. Dari segi ilmu kesehatan, hasil penelitian tim dokter dalam tubuh manusia ada kotoran yang tertimbun akibat dari metabolisme makanan yang dikonsumsi selama satu tahun. Dan selama satu bulan tersbebut akan dikeluarkankan dengan sendirinya oleh alat reproduksi masnusia dengan jalan menahan makan dan minum selama sebulan penuh. Kalau kita maknai secara mendalam sehat tersebut tidak sebatas pada wilayah fisik, tapi juga demensi akal dan pikiran. Mensana koperesana, akal yang sehat terletak pada badan yang sehat. Akal yang sehat menghasilkan pikiran yang jernih. Seseorang yang memiliki pikiran yang jernih akan melahirkan inovasi baru dalam perjalanan hidupanya. Dengan demikian kesadarannya pun terbangun baik dewasa dalam berfikir dan berpikir masadepan dalam bertindak.
Ketiga, dalam bulan puasa romadhan kita sering mendengar kata-kata mudik. Bahkan dikalangan mahasiswa dan pelajar sebagai orang perantauan sudah tidak asing lagi. Karena di akhir puasa mereka sibuk melihat tanggalan untuk menentukan hari yang tepat mudik. Tradisi mudik dilakukan setiap kalangan, kaya, miskin, orang biasa atau pelajar, yang pasti semua mereka yang menyandang status orang perantauan. Aktivitas tahunan itu dilaksanakan pada menjelang hari raya idul fitri. Mudik kalau kita pahami hanya sebuah proses aktivitas maka mudik sebatas ritual rutinitas tahunan yang mengiasi bagian dari keceriaan bulan suci ini. Mari kita amati, biasanya mereka yang pulang ke kampung membawa uang banyak dari hasil kerja keras selama mencari nafkah. Realitas tersebut akan mendongkrak perekonomian dikampung-kampung, karena nilai uang yang beredar bertambah.
Dari mereka banyak membawa rezeki dari Allah, tentunya ada keinginan berbagi rasa atau bentuk rasa syukur kepada Allah dengan cara memberi sesuatu baik berupa duit, makanan, barang kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Itu artinya mereka memberikan pelajaran kepedulian sosial pada kita semua, bagaimana hidup berbagi, saling memberi dan tolong menolong atas sesama. Dari hanya sebuah aktivitas ternyata mudik juga memberikan dampak positif dalam wilyah ekonomi, sosial dan sepritual. Makna mudik pada wilayah sepritual dapat kita temukan dalam Al-Qur’an. Tradisi mudik dalam Al-Qur’an dapat kita ejawantakan dengan kembali kepada ampunan Allah. Dalam konteks ini, Allah berfirman; Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Ali Imran/133). Firman Allah tersebut berbicara mengenai perintah agar kita segera "mudik" dengan cara kembali kepada ampunan Tuhan. Tentunya momentum tersebut sangat tepat kalau perintah dalam ayat tersebut kita terapkam dalam bulan yang penuh maghfiroh ini.
Sebagaimana tujuan dari mudik kita adalah pulang ke kampung halaman agar bisa berjumpa keluarga, sehingga menambah puncak kebahagiaan dalam merayakan hari kemenangan. Begitu juga ketika kita ’mudik’ menuju ampunan Allah, karena kita menginginkan puncak kenikmatan berupa surga yang akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang bertaqwa. Tentunya dalam melaksanakan tradisi mudik banyak hal yang harus dipersiapkan, seperti barang-barang yang akan dibawah, oleh-oleh untuk keluarga dan masih banyak lagi, dengan tujuan agar mudiknya berjalan dengan lancar. Sama halnya ketika kita ’mudik’ menuju ampunan Allah, kita harus mempersiapkan bekal amal ibadah yang banyak. Mungkin dalam waktu yang dekat kita perbanyak amal ibadah dalam bulan penuh berkah ini, perbanyak melantunkan kalimat istighfar sebagai tanda permohonan ampun. Semakin banyak dan mantab bekal yang kita bawa maka peluang mudik kita akan sesuai rencana. Pada akhirnya selamat mudik ke kampung dan ke jalan Allah (ampunan).


 Abu Laka (Departemen Media & Jaringan IKPM SUMSEL Yogyakarta 2012-2014)
* Tulisan ini pernah dimuat di Buletin el-Tasriih Komplek “L” Ponpes Al-Munawwir Krapyak

Selasa, 23 Juli 2013

Sosialisasi "Kota Pendidikan" Melalui Film Pendek

Salah satuu adegan dsalam Film
Salah satu visi kota yogyakarta ialah sebagai kota pendidikan yang berkualitas nampaknya harus dijaga dan dipertahankan. Dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional DIY dan CV Kalika Multimedia Budaya mencoba mensosialisasikan Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang kondusif, nyaman dan aman salah satunya dengan memproduksi film pendek iklan layanan masyarakat berjudul “Yogyakarta Pendidikan Masa Depan”. Iklan layanan masyarakat ini rencana akan ditampilkan pada televisi lokal dan nasional serta ketika ada pameran pendidikan berlangsung.

Film pendek yang berdurasi 20 menit ini berkisah tentang Seorang remaja asal Palembang yang baru saja lulus dari SLTA dan berkeinginan melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi di Yogyakarta. Sayangnya, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di jogja ditentang oleh orang tua dengan alasan ketidakamanan dan kekhawatiran abah akan tidak ada yang membantu meneruskan usahanya jika anak satu-satunya itu keluar Palembang. Berbekal surat panggilan diterima di Program S1 Sastra Inggris salah satu perguruan tinggi di yogyakarta dengan beasiswa penuh serta keinginan yang kuat akhirnya sandi memutuskan meneruskan pendidikannya ke Yogyakarta walaupun belum mendapatkan restu dari abah dan emak.

Menjalani rutinitas kesibukan sebagai mahasiswa dan aktif berorganisasi di kampusnya sandy juga bekerja paruh waktu sebagi jurnalis kontributor lepas di salah satu koran harian di jogja dan menjadi tour guide serta membuka agen wisata bersama teman kampusnya untuk menambah penghasilan agar bisa tetap terus bertahan di Jogja dan menyelasikan kuliahnya. Ia menikmati semua ini karena ia merasa Yogyakarta dipenuhi dengan keramahan dan kehangatan orang-orang disekitarnya.

Berhasil menselaikan program sarjananya dengan baik akhirnya sandy berkeinginan melanjutkan S2 nya sambil mengembangkan usaha agen wisata yang dimilkinya di Yogyakarta, dan selang beberapa tahun usaha agen wisata ini berkembang pesat hingga ke mancanegara. Meras sudah cukup bekal pulang dan telah menselesaikan program sarjana dan pasca sarjananya sandy memutuskan pulang kerumahnya. Dan disambut penyesalan abah dan emaknya, sandy membuktikan bahwa jogja adalah kota pendidikan yang aman, layak, dan nyaman. Bahkan karena dijogja sandy mengenal makna perjuangan.

Menurut Decky Leos sutradara film ini tak begitu banyak kesulitan menggarap film pendek ini karena para kru dan pemain melakukan komunikasi dan persiapan yang baik. Begitu juga menurut tokoh Sandy yang diperankan oleh Falery Effendi Mahasiswa asal Palembang yang sedang menjabat sebagai sekretaris di IKPM Sumateras Selatan Yogyakarta dan sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi dijogja mengaku tak begitu kesulitan memainkan peran sandy karena sebagian alur cerita dalam film memang beberapa banyak yang dia alami dalam kehidupannya.

Ketua IKPM Sumatera Selatan, Agus Lucky Syahputra, sangat apresiatif dengan garapan film pendek yang di pasilitasi pemerintah DIY. Menurutnya, ini sangat positif untuk mempromosikan Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang tenang, nyaman, dan banyak menghasilkan orang-orang besar. Semoga dengan adanya film pendek ini dapat menepis asumsi masyarakat tentang beberapa kejadian keriminal yang baru-baru ini marak di Yogyakata dan mampu menggait lebih banyak lagi pelajar/mahasiswa luar daerah yang ingin menempuh pendidikan di kota pendidikan Yogyakarta.

Sutradara : Decky Leos
Pimpinan Produksi : Kristiana Wulandari
Director of Photography : I Wayan Nain Febri
Penulis Naskah : Ika Ayu
Pemain : Sandy : G Falery Effendi
Abah : Dadang Ihmawan
Emak : Nurmilisani

Senin, 22 Juli 2013

Pemilihan Ulang Pilkada Sumsel Digelar Awal September

REPUBLIKA.CO.ID,PALEMBANG--Komisi Pemilihan Umum Sumatera Selatan menetapkan pemungutan suara ulang pemilihan kepala daerah calon gubernur-wakil gubernur provinsi setempat pada awal September 2013.

"Pemungutan suara ulang pilkada Sumsel dilaksanakan pada 4 September 2013," kata Komisioner KPU Sumatera Selatan Divisi Logistik dan Keuangan Kelly Mariana di Palembang, Kamis.

Menurut dia, sudah ditetapkan untuk pelaksanaan pemungutan suara ulang di dua kabupaten, dua kota dan di Kecamatan Warkuk Ranau Selatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan pada 4 September mendatang.

Ia mengatakan anggaran dana untuk pemungutan suara ulang pemilihan calon gubernur-wakil gubernur sekitar Rp42 miliar.

Jumlah itu memang belum seluruhnya dan masih harus diperbaiki lagi, karena ada bimbingan teknis untuk penyelenggara pilkada di tingkat bawah belum dimasukkan. "Mungkin nanti ada penambahan-penambahan lagi, tetapi sekarang sekitar Rp42 miliar," ujarnya.

Ia menyatakan, anggaran itu digunakan untuk honor penyelenggara pilkada yang jumlahnya hampir separuhnya, pengadaan barang dan jasa, termasuk alat kelengkapan, surat suara dan lainnya.

Sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis (11/7)??memerintahkan kepada KPU Provinsi Sumatera Selatan untuk melaksanakan pemungutan suara ulang di seluruh tempat pemungutan suara di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur,Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan seluruh TPS di Kecamatan Warkuk Ranau Selatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

MK juga membatalkan Keputusan KPU Sumatera Selatan tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan Tahun 2013 pada 13 Juni 2013.

Redaktur : Taufik Rachman
Sumber : antara

Kamis, 18 Juli 2013

IKPM SUMSEL Unjuk Gigi

Yogyakarta - Berbagai kalangan ikut serta berpartisipasi dalam memeriahkan Gebyar Pendidikan 2013, antusisme mereka dalam memperingati hari pendidikan nasional sangat terasa. Terbukti dari penampilan-penampilan yang mengesankan serta kolaborasi yang sinergis dari setiap IKPM yang unjuk gigi pada gebyar pendidikan tanggal 30 Mei 2013. Mereka yang tampil adalah wakil dari setiap IKPM sesuai dengan asal daerah mereka masing-masing.

Pada gebyar pendidikan 2013 IKPM Jambi menampilkan tari zapin. Tarian zapin dapat ditemui pada helat perkawinan, khitanan, syukuran, pesta desa, sampai peringatan hari besar Islam. Pola tarinya sangat sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang. Gerak tarinya mendapat inspirasi dari kegiatan manusia dan alam lingkungan. Lalu IKPM Bali menyuguhkan penampilan yang mengesankan yaitu kesenian musik Rindik dan seni vocal Genjek. Kesenian ini mengilustrasikan suasana ketika diadakan hajatan atau syukuran, dimana pemuda merayakannya dengan berkumpul sembari menikmati arak, untuk mencegah terjadinya hal negatif pemuda-pemuda itu memainkan alat musik dan bernyanyi sesuai pakem Bali. 

Sedangkan dari IKPM Sumatera Selatan juga tidak kalah mengesankan, mereka  membawakan lagu daerah Sumatera Selatan berjudul Pempek Lenjer yang berisi tentang mempromosikan makanan khas Palembang yaitu pempek. Lalu dilanjutkan dengan penampilan tarian garapan kreasi baru yang mengangkat tema pergaulan muda-mudi Sumatera Selatan. Beghusek artinya bertamu, tarian ini terinspirasi dari aktivitas sehari-hari gadis remaja yang ada didaerah Sumatera Selatan, mereka saling bertamu, bermain, riang gembira, menari, bercanda dan bersendau gurau bersama dengan gerak lincah dan energik.

Surtia ningsih salah satu perwakilan penari binaan IKPM Sumatera Selatan mengungkapkan kebanggaanya menarikan tari beghusek, karena dapat menampilkan kesenian daerahnya sendiri, " saya bangga dapat menarikan tarian ini didepan khalayak yang notabene  belum pernah melihat tarian tersebut, sehingga dapat mengetahui salah satu kesenian Sumatera Selatan". Ungkapnya.

Kemudian, Ketua Umum IKPM Sumsel, Agus Lucky Syahputra sangat apresiatif dengan kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dikemas sangat menarik dengan menampilkan beragam kesenian dari beberapa daerah dan melibatkan mahasiswa daerah itu sendiri. Ia juga berharap agar kegiatan seperti ini tetap dilaksanakan ditahun berikutnya untuk menciptakan sinergisitas antara pemerintah dan mahasiswa daerah yang ada di Yogyakarta.