Jumat, 26 Juli 2013

Memaknai Pesan Pausa Romadhon*

    Lantunan suara yang berbunyi buka….teruslah berjalan, diteriakan oleh para Shoimun setiap menjelang maghrib. Dan tak terasa kita sudah memasuki lebih kurang setengah dari bulan Romadhon 1434 Hijriah. Ketika bulan penuh berkah dan ampunan itu akan tiba, banyak tradisi yang ditunjukan oleh masyarakat islam untuk menyambutnya. Ada dengan cara minta maaf kepada sesama manusia yang dikenal–kalau mahasiswa atau pelajar mungkin menggunakan media sms, mengirimkan ucapan selamat dan permohonan maaf, sehingga ketika melaksanakan ibadah puasa jiwa ini benar-benar siap karena sudah terlepas dari segala beban dosa atas sesama hamba Allah.
Ada juga yang menyambutnya dengan limpahan dosa, karena mereka menganggap mempung belum puasa, maka dipuaskan dulu untuk berbuat dosa, nanti bulan puasa bertobat. Apapun bentuk sambutan masyarakat, tidak penting untuk debatkan, karena kita sedang membicarakan makna pesan yang terkandung dalam puasa. Terlepas dari semua bentuk sambutan tersebut. Namun, yang pasti seluruh umat islam di penjuruh dunia sangat bahagia yang tak terukur nilainya dikalah Romadhon akan datang. Bagaimana tidak. Romadhon, Bulan penuh limpahan rahmat yang diberikan Allah pada sepuluh hari pertama, bulan penuh dengan mutiara ampunan yang dihadiakan Allah sepuluh hari pertengahan, dan bulan penuh dengan kelipatan pahala yang dibonuskan Allah pada umat Islam pada sepuluh hari terkhir atau yang sering kita sebut malam Lailatul Qodar (malam seribu bulan).
Pada dasarnya puasa romadhon merupakan kewajiban umat islam sebagaimana yang telah digasriskan Allah dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqoroh ayat 183. Ketika kita melaksanakan perintah tersebut dengan mengharap ridlo Allah, maka terlepas sudah kita dari kewajiban syari’ah dan kita akan dibalas oleh Allah sendiri berupa pahala yang berlipat ganda, sebagaimana janji-Nya akan memberikan pahala puasa secara langsung kepada anak adam yang berpuasa dengan sempurna. Sepintas kalau dipahami ritual manahan lapar dan minum tersebut  akan berlalu begitu saja. Seakan-akan pekerjaan yang dilakukan hanya untuk melepas kewajiban dan ajang mencari pahala.
Sebenarnya kalau kita gali lebih dalam, akan banyak iktibar (pelajaran) yang terkandung dalam puasa romadhon tersebut. Terganutung kita memehaminya dan pondasi niat yang kita buat dari awal puasa. Sebagaimana kata Rosulullah kalau pekerjaan dunia tidak kita niati ibadah, seperti makan hanya dapat kenyang, minum hanya dapat segar, olah raga hanya dapat badan sehat, tapi tidak dapat pahala. Saya kira begitu sebaliknya dengan pekerjaan yang berbentuk amal akhirot.
Sebagaimana puasa, kalau kita memahami sebatas melepas kewajiban syari’at saja, maka kita tidak akan mendapat iktibar yang terkait dengan urusan dunia. Pada hal kita dianjurkan untuk belance leafe (hidup seimbang)–Hablu Minallah (hubungan vertikal, dengan Allah), Hablu Minannas (Hubungan horizontal, sesama manusia) dan Hablu Minal ‘Alam (Hubungan Horizontal, dengan alam). Menurut hemat saya ada beberapa hal yang bisa kita maknai dalam puasa baik dari hikmah maupun pesan puasa yang terkandung didalamnya.
Dari renungan makna tersebut akan memberikan perubahan kesadaran dalam diri kita–Kesadaran solidaritas, bersosial, mendekatkan diri pada Allah, kesadaran asas manfaat terhadap sesama dan masih banyak lagi kesadaran yang mengarah kepada berpikir konstruktif dan inovatif. Jika semua itu bisa kita realisasikan, maka hadist Rosulullah yang mengatakan “Barang siapa berpuasa dengan iman dan mengharap ridlo Allah, maka dia akan seperti bayi yang baru dilahirkan”  akan benar-benar sempurna. Karena, tidak sebatas bersih dari segala dosa, tapi juga melahirkan insan-insan yang berkarekter positif dan membangun peradaban umat manusia.
Sekarang kita mencoba memahami pesan yang terkandung dalam puasa Bulan Romadhon. Pertama, Puasa Romadhon membentuk kesadaran sosial, sehingga akan membentuk solidaritas sosial dikalangan  orang miskin. Karena pada bulan puasa ini, seluruh umat islam, miskin kaya, rakyat biasa, elit politik semuanya menahan lapar dan dahaga. Dalam proses menahan bersama itulah ada pesan yang terkandung bahwa orang kaya bisa merasakan bagaimana penderitaan orang miskin ketika mereka kekurangan, selanjutnya akan tumbuh kesadaran sosial bagi orang-orang yang mau merenungkan hikmah dari puasa tersebut. Kesadaran tersebut pun kita tak inginkan hanya tumbuh sebatas pada bulan-bulan puasa. Namun, kesadaran tersebut akan menjadi karekter dalam pergaulan sehari-hari atas sesama. Dengan demikian sungguh luar biasa puasa seseorang jika dua tingkat kesholehan ia bisa meraih semuanya–Kesholehan iman (bersih dari segalah dosa seperti bayi yang baru lahir) dan kesholehan Sosial (terbentuk kesadaran solidaritas atas sesama manusia tanpa pandang bulu). Allah Humma Amiin. Amiin Ya Allah.
Kedua, ada hadits Nabi yang mengatakan Shumuu Tashihuu, ”Puasalah kamu, maka kamu akan sehat”.  Dari hadits diatas Dapat kita pahami bahwa puasa dapat menyehatkan bada secara fisik bukan menjadikan kita lemah. Maka tidak ada alasan bagi kaum profesi apapun untuk tidak puasa dengan alasan karena puasa membuat lemah ketahanan tubuh. Ternyata hadits Rosulullah tidak sekadar kata-kata mutiara agar orang mau berpuasa. Dari segi ilmu kesehatan, hasil penelitian tim dokter dalam tubuh manusia ada kotoran yang tertimbun akibat dari metabolisme makanan yang dikonsumsi selama satu tahun. Dan selama satu bulan tersbebut akan dikeluarkankan dengan sendirinya oleh alat reproduksi masnusia dengan jalan menahan makan dan minum selama sebulan penuh. Kalau kita maknai secara mendalam sehat tersebut tidak sebatas pada wilayah fisik, tapi juga demensi akal dan pikiran. Mensana koperesana, akal yang sehat terletak pada badan yang sehat. Akal yang sehat menghasilkan pikiran yang jernih. Seseorang yang memiliki pikiran yang jernih akan melahirkan inovasi baru dalam perjalanan hidupanya. Dengan demikian kesadarannya pun terbangun baik dewasa dalam berfikir dan berpikir masadepan dalam bertindak.
Ketiga, dalam bulan puasa romadhan kita sering mendengar kata-kata mudik. Bahkan dikalangan mahasiswa dan pelajar sebagai orang perantauan sudah tidak asing lagi. Karena di akhir puasa mereka sibuk melihat tanggalan untuk menentukan hari yang tepat mudik. Tradisi mudik dilakukan setiap kalangan, kaya, miskin, orang biasa atau pelajar, yang pasti semua mereka yang menyandang status orang perantauan. Aktivitas tahunan itu dilaksanakan pada menjelang hari raya idul fitri. Mudik kalau kita pahami hanya sebuah proses aktivitas maka mudik sebatas ritual rutinitas tahunan yang mengiasi bagian dari keceriaan bulan suci ini. Mari kita amati, biasanya mereka yang pulang ke kampung membawa uang banyak dari hasil kerja keras selama mencari nafkah. Realitas tersebut akan mendongkrak perekonomian dikampung-kampung, karena nilai uang yang beredar bertambah.
Dari mereka banyak membawa rezeki dari Allah, tentunya ada keinginan berbagi rasa atau bentuk rasa syukur kepada Allah dengan cara memberi sesuatu baik berupa duit, makanan, barang kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Itu artinya mereka memberikan pelajaran kepedulian sosial pada kita semua, bagaimana hidup berbagi, saling memberi dan tolong menolong atas sesama. Dari hanya sebuah aktivitas ternyata mudik juga memberikan dampak positif dalam wilyah ekonomi, sosial dan sepritual. Makna mudik pada wilayah sepritual dapat kita temukan dalam Al-Qur’an. Tradisi mudik dalam Al-Qur’an dapat kita ejawantakan dengan kembali kepada ampunan Allah. Dalam konteks ini, Allah berfirman; Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Ali Imran/133). Firman Allah tersebut berbicara mengenai perintah agar kita segera "mudik" dengan cara kembali kepada ampunan Tuhan. Tentunya momentum tersebut sangat tepat kalau perintah dalam ayat tersebut kita terapkam dalam bulan yang penuh maghfiroh ini.
Sebagaimana tujuan dari mudik kita adalah pulang ke kampung halaman agar bisa berjumpa keluarga, sehingga menambah puncak kebahagiaan dalam merayakan hari kemenangan. Begitu juga ketika kita ’mudik’ menuju ampunan Allah, karena kita menginginkan puncak kenikmatan berupa surga yang akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang bertaqwa. Tentunya dalam melaksanakan tradisi mudik banyak hal yang harus dipersiapkan, seperti barang-barang yang akan dibawah, oleh-oleh untuk keluarga dan masih banyak lagi, dengan tujuan agar mudiknya berjalan dengan lancar. Sama halnya ketika kita ’mudik’ menuju ampunan Allah, kita harus mempersiapkan bekal amal ibadah yang banyak. Mungkin dalam waktu yang dekat kita perbanyak amal ibadah dalam bulan penuh berkah ini, perbanyak melantunkan kalimat istighfar sebagai tanda permohonan ampun. Semakin banyak dan mantab bekal yang kita bawa maka peluang mudik kita akan sesuai rencana. Pada akhirnya selamat mudik ke kampung dan ke jalan Allah (ampunan).


 Abu Laka (Departemen Media & Jaringan IKPM SUMSEL Yogyakarta 2012-2014)
* Tulisan ini pernah dimuat di Buletin el-Tasriih Komplek “L” Ponpes Al-Munawwir Krapyak

0 komentar:

Posting Komentar